Dari warna langit yang mulai memerah itu aku merenung didepan teras
rumah, memandang lekat pemandangan yang setiap hari menyapa, namun tak
semua orang mau menikmati keindahan sore yang setiap hari datang
menjelang adzan maghrib dikumandangkan,
waktu yang terus berlalu
membuatku sadar dari lamunan yang sedari awal membuatku tenggelam dalam
sebuah kenangan dimana kau selalu ada dan hadir disampingku, hari-hari
dimana kita pernah lalui kala itu telah berhasil mengukir seribu tawa,
ceribu canda dan membuatku enggan melupakan senyum sabitmu yang telah
mendarah daging dalam hati ini.
Sempat terbesit dalam lamunanku
kala itu, kau yang selalu hadir dengan senyum manis, wajah ceria dan
selalu menyita pikiranku, sempat aku berfikir tentangmu, bahwa engkau
sahabat terbaikku yang selalu berhasil dan membuatku selalu berada dalam
sebuah senyum dan kegembiraan, kau yang selalu membuatku sadar bahwa
sungguh perlu disesalkan kalau saja hidup ini dilalui dengan sebuah
kesedihan dan kegundahan, kau-lah yang hadir mengubah hidupku,
mengubahku menjadi sosok yang menjadi lebih periang dan selau menghadapi
hari-hari penuh dengan semangat.
Namun entahlah, dari mana angin
ini berhembus dan dari mana aroma ini ter-endus, aku merasakan hal yang
berbeda kali ini, rasa yang hadir kali ini tentangmu, tentang dirimu
yang selalu hadir dalam setiap hari-hari dan satiap waktu dimana aku
merasa sendiri, bibir ini terasa kaku untuk berucap bahkan mata ini tak
sanggup berkedip setelah aku menyadari bahwa apa yang aku rasa kali ini
adalah anugerah Allah yang maha Indah, namun entahlah aku tetap bingung
dan “sempat” malu pada diriku sendiri untuk mengakui , mengapa aku
harus meiliki rasa ini kepadanya, sesaat aku menepis anggapan “konyol”
ini namun inilah yang terjadi, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,
meski bibir ini selalu berkata tidak, namun mata dan hati ini jelas
menjadi gambaran apa yang sedang aku rasakan.
Subhanallah, aku
menghela nafas dalam-dalam, benarkah ini terjadi, benarkah ini nyata,
atau hanya pandangan dan anggapanku sesaat tentangnya, aku belum
sepenuhnya percaya tentang rasa ini, belum bisa memastikan kalau aku
harus tenggelam dalam sebuah rasa yang “kata orang” begitu indah dan
menakjubkan, ya memang begitu karena aku belum pernah sekali-pun meneguk
serta merasakan sejatinya sebuah rasa cinta seorang kekasih, kini aku
berada di mulut pintu itu, aroma dan rasanya mulai tercium, namun aku
belum meyakini, dalam setiap sudut kebingunganku aku masih bertanya
benarkah ini sebuah ketulusan cinta yang kini mulai tumbuh atau hanya
sekedar hawa nafsu yang sesaat datang dan kembali menghilang.
Kini
aku mulai merasa gelisah serta bingung, yang ada hanya bayangmu yang
selalu hadir menemaniku, senyum sabit yang selalu kau layangkan kini
selalu berada disetiap jarak aku memandang, kau bagai serpihan logam
bagiku tak bisa kulepas tak bisa aku pergi darimu, dalam kegelisan ini,
kucoba ciptakan sebuah dimensi kebahagiaan, mencoba menata hati dan
pikiran membuatnya lebih tertata dan rapi, mencoba memikirkan sekedarya
saja, mencoba kembali pada pemilik rasa dan pemilik hati.
Dalam
hening malam dan dinginnya angin kala itu, kucoba teteskan bercak-bercak
air dari kran yang mulai berkarang itu, kuusap dari tubuh ini dari muka
sampai ujung kaki, berniat mensucikan diri menghadap-Mu, sesekali
kudengar cicit burung yang bertengger didahan pohon depan kamarku, ia
seakan tahu tentang hadirku malam itu, aku melanjutkan langkahku dengan
sarung abu-abu dan peci yang mulai lusuh itu, aku mengawali takbir
menghadap-Mu, mencoba tenggelam dan bersua dengan-Mu, izinkan aku
membasahi sajadah bersimbah air mata dalam sujud, aku bertakbir seluruh
jiwa dan raga, karena sungguh mendambakan-Mu, merindukan-Mu, kini aku
mencoba pasrahkan diri pada-Mu tentang rasa, tentang cinta yang kini aku
rasakan, dari manakah awal ia datang, anugerahkah atau hanya sekedar
nafsu. Izinkan aku tunduk memohon ampun lafadzkan taubat dan istighfar.
Dari
sekian rentetan malam yang telah aku datangi, tak ada yang aku harapkan
kecuali petunjuk dari-Mu, jalan mana yang harus aku pilih dan benarkah
semua ini berawal dari ketulusan dan kesungguhan hati, dan hingga sat
ini, sampai sekarang jari-jari ini menulis, sedikit-demi sedikit aku
menemukan jawaban dari-Mu, bagaimana aku berbuat serta bagaimana aku
harus melangkah. Dan kini mulai aku sadari InsyaAllah rasa ini berawal
dari kesungguhan niat atas anugerah-Mu, perlahan aku mencoba membaca
rasa ini, perlahan dan perlahan hingga aku meyakini apa yang aku rasakan
kali ini benar. Kini aku mulai mencoba meyakinkan diri bahwa Engakulah
yang telah menghadirkan rasa ini padaku.
Ya Allah, kini aku hanya
bisa memohon agar selalu kau jaga kemurnian rasa ini, untuk selalu bisa
menjaga bagaimana aku harus mengaturnya, menata serta menjaga hati ini
yang setiap saat selalu berbolak balik, doaku; tetapkanlan hatiku pada
agama, juga rasa cinta kepada-Mu, serta jagalah hati ini untuk selalu
bisa dengan tulus dan ikhlas menjalankan ibadah hanya kepada-Mu, Ya
Allah, izinkanlah hamba mencinta dirinya karena-Mu, karena diri-Mu yang
maha pemilik rasa, pemilik hati, dan pemilik kesungguhan ini.
Izinkanlah aku reguh cinta-Mu....
Salam Ta’dzim ^_^
24 Juli 2012